ARDS+TB Paru Kasus Baru dalam Pengobatan OAT Kat 1 Fase Intensif pada G6P5A0H5 Gravid 27-28 Minggu
DOI:
https://doi.org/10.25077/jka.v7i0.929Abstract
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan di dunia demikian juga tuberkulosis pada kehamilan. Berdasarkan laporan WHO, Indonesia menempati urutan ketiga terbesar angka kejadian TB di dunia setelah Cina dan India. Tuberkulosis pada kehamilan mempunyai gejala klinis yang serupa dengan tuberkulosis pada wanita tidak hamil. Diagnosis mungkin ditegakkan terlambat karena gejala awal yang tidak khas.. Penanganan yang tidak benar pada penderita TB akan menimbulkan berbagai macam komplikasi, salah satunya adalah sindrom gagal nafas dewasa (Adult Respiratory Distress Sindrome/ARDS). ARDS dapat menyebabkan 70% angka kematian pada penderita TB. Berikut ini dilaporkan kasus seorang pasien wanita dengan usia 38 tahun dengan diagnosis : ARDS + TB Paru kasus baru dalam pengobatan OAT Kat 1 fase intensif pada G6P5A0H5 gravid 27-28 minggu. Tujuan penelitian ini adalah agar diagnosis TB dalam kehamilan dapat ditegakkan secara akurat, sehingga dapat diterapi secara tepat dan tidak menyebabkan resiko yang cukup besar bagi ibu dan janin.Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Authors retain copyright and grant the Jurnal Kesehatan Andalas right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike (CC BY-SA 4.0) license that allows others to share (copy and redistribute the material in any medium or format) and adapt (remix, transform, and build upon the material) the work for any purpose, even commercially with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in Jurnal Kesehatan Andalas.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in Jurnal Kesehatan Andalas.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).










